Kesetaraan Gender dalam Film Ayat-Ayat Cinta



“… Pak De, kapan mau ngomong sama Mas Fahri?”
“… Tugasmu, bukan hanya mencari nafkah atau materi saja, Sayang”

Penggalan kalimat-kalimat di atas adalah bagian dari dialog tokoh-tokoh dalam fragmen film Ayat-Ayat Cinta (AAC), yang sempat laris manis di pasaran. Dalam beberapa minggu, antrian pembelian tiket selalu terlihat panjang di bioskop yang menayangkan film ini.
Konon, jika dilihat dari jumlah penonton di Indonesia yang menonton, film ini mampu menyaingi film-film Hollywood yang menjadi Box Office, bahkan ada yang mengatakan film ini adalah Titanic-nya Indonesia. Selain jumlah penonton berlimpah, film ini juga mampu menguras air mata para penontonnya, khususnya dari kalangan kaum Hawa. Semua kalangan nampaknya turut menjadi penikmat film AAC, mulai dari anak sekolah, pejabat negara sampai ulama. Tidak hanya perempuan, kaum pria pun banyak yang berminat menonton film yang diangkat dari novel best seller ini.
Wajar bila banyak yang terpikat dengan indahnya film AAC, karena memang jalan ceritanya menarik, dan karakter tokohnya pun juga bagus (ada keteladanan dari tokoh utamanya), serta jalinan konflik dramatis yang dibangun berakhir dengan happy ending.
Terlepas dari kesuksesan Ayat-Ayat Cinta—baik film maupun novelnya—mungkin akan sangat menarik jika kita meninjau film Ayat-Ayat Cinta ini dari perspektif gender, yang juga memang sedang menjadi isu aktual di masyarakat saat ini.
Jika dicermati, film ini ternyata dengan sangat manis memberikan pelajaran kesetaraan gender bagi penontonnya, tentu saja terlepas dari adegan kekerasan yang ditampilkan oleh tokoh Bahadur pada anak perempuannya. Atau juga poligami yang dilakukan oleh tokoh utama, yaitu Fahri, walaupun sebenarnya poligami yang terjadi bukan atas kemauan pihak suami, melainkan karena perintah istri pertama yang terpaksa meminta dipoligami demi keselamatan Fahri itu sendiri. Ini tentu lain sekali dengan isu poligami yang berkembang di masyarakat sekarang, di mana poligami terjadi lebih karena disebabkan kemauan pihak suami, dengan banyak alasan klise.
Dalam film ini juga dipaparkan bagaimana perempuan sangat dihargai dari dialog tokoh utamanya yang menjelaskan bahwa Surga ada di telepak kaki ibu.
Salah satu kesetaraan gender yang ditampilkan dalam film ini, ialah ketika tokoh Nurul—seorang perempuan Jawa—bisa menempuh pendidikan tinggi S2 di Kairo, Mesir. Ini menunjukkan bahwa dalam hal pendidikan, perempuan pun bisa setara dengan laki-laki. Perempuan berhak untuk mencapai pendidikan setinggi-tingginya. Padahal seperti kita ketahui, secara umum, bahwa budaya masyarakat Indonesia—khususnya di Jawa—cenderung menghambat perempuan untuk mempunyai pendidikan tinggi. Kalau pun dalam satu keluarga ada beberapa anak laki-laki dan perempuan, maka kemungkinan besar yang diprioritaskan oleh orang tua dalam menyekolahkan anak tersebut sampai pendidikan tinggi adalah anak laki-laki. Karena dalam pepatah Jawa, anak laki-laki dipandang mempunyai langkah atau jangkauan masa depan yang lebih panjang.
Kesetaraan gender lainnya juga terlihat manakala tokoh Nurul meminta kepada “Pakde”-nya untuk menyampaikan keinginannya untuk dinikahi, kepada pria pujaannya (Fahri, tokoh utama). Fragmen ini juga menjadi contoh bahwa tak selamanya perempuan selalu pasif, khususnya terkait dengan pernikahan. Dalam budaya Indonesia juga, laki-laki umumnya menjadi pihak yang aktif dalam memilih calon jodohnya. Dan ini menjadi hal yang sangat wajar, karena memang secara gender pada masyarakat Indonesia, laki-laki diidealkan dengan sosok yang aktif dan agresif sesuai dengan perannya menjadi kepala rumah tangga, pencari nafkah, pelindung, dan lain sebagainya. Sehingga, akan terkesan aneh manakala perempuan yang lebih aktif dalam memilih jodohnya.
Perempuan bisa saja diberikan atribut negatif apabila “mendekati” terlebih dahulu laki-laki yang disukainya. Namun dalam film ini disiratkan bahwa hal tersebut adalah suatu kewajaran, apabila seorang perempuan mengungkapkan lebih dahulu perasaannya kepada laki-laki yang disukainya. Terlihat dari tokoh “Pakde” yang tidak bersikap “aneh” manakala keponakan perempuannya minta “dilamarkan” laki-laki pujaannya. Karena memang wanita juga mempunyai hak untuk memilih, dengan siapa dia akan menikah. Karena dia yang akan menjalani kehidupan setelah berumah tangga kelak.
Terakhir, kesetaraan gender juga terlihat dalam salah satu fragmen, ketika tokoh Aisha (istri pertama Fahri) mengatakan bahwa tugas suami tidak hanya memberi nafkah dalam bentuk materi saja. Kalimat tersebut dilontarkannya untuk menyikapi kegalauan suaminya, Fahri, yang—sebagai seorang suami—merasa  kekurangan dalam penghasilan, sedangkan dia juga masih sedang dalam proses menyelesaikan studinya. Sehingga dia merasa kurang bertanggung jawab sebagi suami dari aspek memberikan nafkah materi. Sedangkan untuk untuk mencukupi kebutuhan hidup setelah menikah, Aisha lebih berperan, karena dia berasal dari keluarga kaya, dan mendapat materi berlimpah dari orang tuanya. Dalam hal ini bisa dipetik pelajaran bahwa kesetaraan gender dalam keluarga bisa didapatkan manakala antara suami dan istri saling berbagi peran sesuai dengan proporsinya. Tidak harus suami selalu menjadi pencari nafkah utama tanpa mau peduli dengan urusan-urusan domestik. Sebaliknya tidak juga selalu istri hanya menjadi “konco wingking”, yang hanya tahu urusan dapur, sumur dan kasur. Perempuan juga mempunyai peran-peran strategis dalam kehidupan berkeluarga, tentu tanpa mengabaikan kodratnya sebagai wanita. Mungkin perlu direnungkan kalimat yang terucap dari bibir Aisha sebagai bentuk penghormatan pada suami maupun ketaatan pada keyakinannya: “Tetapi, aku ikut kamu. Karena kamu adalah imamku”. J

Masih banyak memang sebenarnya tampilan kesetaraan gender dalam film ini, namun karena keterbatasan yang begitu menggunung, mungkin itu saja yang bisa kami berikan.

Penasaran dengan film Ayat-Ayat Cinta ini?
Lihat dulu aja trailer-nya.. :) Disini.


Dikutip dengan sedikit perubahan redaksi, dari http://heriarum.blogspot.com/2008/05/kesetaraan-gender-dalam-film-ayat-ayat.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.