RELASI GENDER DALAM
AGAMA YAHUDI
Oleh:
Ika Wahyu Susanti
Pendahuluan
Setiap agama mengalami evolusi sikap-sikap terhadap perempuan
secara historis, begitu pula dengan Yahudi. Kultur keagamaan Israel yang
bersifat al-kitabi mempunyai rentang waktu mungkin 1000 tahun (1200-200 SM),
tetapi masih banyak tradisi-tradisi yang terekam dalam Bible Ibrani. Puncak
kematangan kultur Israel berpusat pada monoteisme yang kuat dengan berdasarkan
pada keyakinan bahwa Tuhan yang benar-benar Esa telah menjadikan orang-orang
Israel sebagai manusia-manusia pilihan-Nya.
Orang Yahudi menekankan prokreasi (reproduksi) dan kehidupan
keluarga karena mereka telah melakukan suatu perjanjian dimana perjanjian itu berupa aturan-aturan
yang menyerupai kontrak yang dibuat antara Tuhan dan Musa, sebagai wakil rakyat
(lihat keluhan exodus dan Deuteronomy). Perjanjian tersebut memberi mereka
suatu identitas yang istimewa dan suatu alasan yang istimewa pula untuk
bertahan hidup.[1]






