Perlawanan Tokoh Utama Perempuan Terhadap Budaya Patriakhi dalam Film



Ada tiga buah judul film yang menarik perhatian kami dalam hal ini, ketiga film merupakan buah karya sutradara perempuan, Nia Dinata. Film pertama, berjudul “Arisan” yang diproduksi pada tahun 2004. Film kedua, berjudul “Berbagi Suami” yang diproduksi pada tahun 2006. Dan film terakhir, berjudul “Perempuan Punya Cerita” (Cerita Cibinong)  yang diproduksi pada tahun 2008.
Ketiga film tersebut menampilkan bentuk-bentuk “perlawanan” yang dilakukan oleh tokoh-tokoh utama perempuan yang bermain di dalamnya.
Sebagai seorang sutradara, Nia Dinata cenderung menampilkan karakter tokoh utama perempuan dalam ketiga filmnya sebagai sosok perempuan yang mandiri, kuat, dan tegar mandiri menghadapi beberapa masalah yang dihadapkan pada mereka.
Film Arisan, Berbagi Suami dan Perempuan PunyaCerita menampilkan bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh utama perempuan dalam film, terhadap budaya patriarkhi.
Kesempurnaan seorang perempuan tidak hanya diukur melalui apakah dia mampu melahirkan atau tidak, melainkan perempuan juga memiliki peranan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki. Perempuan juga mampu melakukan pekerjaan lain yang dapat dianggap setara dengan laki-laki
Pembuat film juga berusaha memberi gambaran tentang peluang pengambilan keputusan atau kendali kehidupan bagi perempuan, sebagai jalan untuk meraih kebahagiaannya masing-masing, dan perempuan memiliki kesempatan untuk tidak terlibat dalam belenggu budaya patriarkhi, dan menentukan sendiri kehidupan yang ingin dipilihnya, tanpa ada tekanan dari kekuasaan tertentu, termasuk laki-laki.

Perspektif Perempuan
Perspektif perempuan menjadi salah satu sudut pandang untuk dapat mengungkap permasalahan perempuan baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Nia Dinata sebagai pembuat film, berusaha mengemukakan kehidupan dan permasalahan perempuan di Indonesia dengan menggunakan sudut pandang sutradara perempuan, yang sering kali dipengaruhi oleh aliran kritis dan feminisme. Hal ini dilakukan dalam rangka mematahkan stereotipe yang telah merugikan perempuan, yang selama ini telah melekat pada masyarakat Indonesia. Juga untuk mengungkap adanya akses-akses atau peluang yang dimiliki perempuan untuk menentukan kebahagiaannya sendiri. Memperkecil adanya perbedaan yang selama ini telah dilekatkan kepada perempuan dan laki-laki, dengan cara memperjuangkan adanya kesetaraan di antara keduanya

Perlawanan Perempuan Terhadap Budaya Patriakhi
Persamaan tema dan ide cerita dalam film Arisan, Berbagi Suami, dan Perempuan Punya Cerita – Cerita Cibinong menunjukkan bahwa Nia Dinata, sebagai seorang sutradara dan sekaligus menjadi author atau pengarang dari filmnya, memiliki perhatian khusus terhadap isu tentang perempuan. Ada pernyataan budaya baru yang terkait dengan stereotipe perempuan Indonesia. Perempuan tidak hanya berada di belakang laki-laki, tapi dapat setara dengan laki-laki. Perempuan berperan sebagai subyek dalam kehidupannya sendiri.
Film Arisan!, Berbagi Suami dan Perempuan Punya Cerita – Cerita Cibinong berperan menyampaikan informasi, agar penonton menyadari dan memperhatikan realitas permasalahan perempuan yang ada sekitarnya. Selanjutnya, pengetahuan terhadap adanya permasalahan tersebut akan dapat melahirkan kepedulian dan upaya-upaya yang dapat membantu mengatasi beragam permasalahan perempuan yang selama ini kurang mendapat perhatian dari publik.


Penasaran dengan film-film tersebut? 
Yuk, kita tonton.. :)
 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.