Responding Paper Topik XI

RELASI GENDER DALAM AGAMA BUDDHA
 
Oleh:
Dede Ardi Hikmatullah
1111032100037

PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013

RELASI GENDER DALAM AGAMA BUDDHA
Perempuan dalam Agama Buddha
Buddha menginginkan kaum perempuan terbebas dari penderitaan dan tidak menyerah terhadap naluri yang melemahkan. Buddha menciptakan kondisi bagi kaum perempuan untuk masuk ke jalur kebijaksanaan dan keyakinan bahwa perempuan mampu untuk mencapai tingkat arahat. Dalam naskah Buddha Mahayana banyak ditemukan contoh-contoh perempuan yang dilukiskan sebagai bhodisatwa yang maju, yang mampu mencapai pencerahan. Beberapa kisah yang terkenal dalam Sutra Sadharmapundarika, Sutra Wirmalakirtinirdesa, Sutra Astasahasrika Prajnaparamita, dan Sutra Sirmalasimhanada menggambarkan umat perempuan awam, bahkan anak-anak perempuan berusia delapan tahun, yang menguasai doktrin yang mendalam terlibat dalam praktek bhodisatwa.
Dulu, kondisi masyarakat India pada masa pra Buddha diwarnai oleh perlakuan yang diskriminatif atas kasta dan gender. Salah satu ajaran Brahmanisme yang sangat seksis mengatakan bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak melaksanakan ritual penyucian pada saat upacara kematian orang tua, dan akan mengangkat ayah mereka masuk ke alam Surga. Perempuan tidak berhak dan diyakini tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan orang tua mereka. Lalu kemudian, dalam situasi demikian, Buddha hadir membawa pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan kesempatan yang hampir sama dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius maupun sosial. Totalitas sikap Buddha yang adil gender terbukti tatkala didirikannya Sangha Bhikkhuni atau komunitas perempuan yang menjalani hidup suci secara selibat. Perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atas jalan hidupnya sendiri, entah itu menjadi ibu rumah tangga biasa, atau pun meninggalkan peran tradisional tersebut dan hidup sebagai bhikkhuni.

Pandangan Negatif Terhadap Perempuan
Meskipun Buddha mengakui egalitarianisme, tetapi pada khotbah tertentu Buddha menganggap bahwa kelahiran sebagai perempuan adalah buah dari karma buruk. Derajat kelahiran kaum perempuan dianggap lebih rendsa dibandingkan dengan kelahiran kaum laki-laki. Perempuan dianggap memiliki kecenderungan untuk berbuat serakah dan malas, layaknya anak-anak mara Dalam Sagatha Vagga, perempuan dipersonifikasikan sebagai mara penggoda yang menghalangi “pembebasan agung”. Personifikasi sebagai mara juga ditemukan dalam Soma Sutta perempuan dianggap tidak memiliki pendirian, penuh nafsu birahi, suka bertengkar, dan bersifat jahat. Dalam  Aganna Sutta, perempuan dipandang sebagai makhluk yang harus bertanggung jawab atas jatuhnya moral yang disebabkan oleh nafsu. Umur dhamma akan berkurang 500 tahun dengan masuknya Sangha Bhikkhuni. Walau pun pada kenyataannya Mahayana, yang justru masih memelihari Sangha Bikkhuni justru lebih dapat berkembang dibanding Theravada. Dalam Bahudhatuka Sutta dan Majjhima Nikaya, perempuan dikatakan memiliki lima hambatan yang membuat mereka tidak akan mampu menjadi Raja Brahma, Raja Sakka, Raja Mara, Raja Cakkavatti dan Buddha. Dalam sutta ini, dinyatakan dengan jelas bahwa perempuan tidak mungkin dapat menjadi Buddha. Pandangan Mahayana juga menyatakan bahwa untuk mencapai kebudhaan, seseorang harus terlahir sebagai laki-laki. Perempuan disudutkan sebagai penghambat  kelestarian dhamma seperti yang dituliskan dalam Vinaya.
Dalam Cakkavattisihanada Sutta, perempuan dianggap sebagai salah satu harta bagi Raja Cakkavatta. Dalam sutta yang sama, salah satu tanda “manusia agung” juga merujuk pada laki-laki (purusa) bukan perempuan. Dalam Dhammapada dikatakan bahwa kelakuan buruk adalah noda bagi perempuan. Perempuan dianggap sebagai makhluk yang suka selingkuh dengan mengibaratkan seperti sungai, jalan, toko minuman, rumah singgah, pot air di pinggir jalan, yang berhubungan dengan semua orang.

Kesadaran Gender dalam Agama Buddha
Dalam sejarah agama Buddha, 500 tahun sejak terbentuknya komunitas Sangha Bikkhu, para kaum laki-laki menjalani hidup suci. Mereka ditahbiskan oleh sang Budha yang kemudian membentuk suatu komunitas besar, dengan hidup selibat berpetualang di hutan-hutan, tidak hanya menetap di dalam Vihara. Karena dalam pandangan agama Buddha awal, hidup selibat merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai kebebasan tertinggi, yaitu valhala. Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga menginginkan hal yang sama. Dalam teori hukum karma, kelahiran sebagai perempuan merupakan karma buruk. Sang Budha merevolusi hukum tersebut dengan penemuan baru teori hukum karma bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, tidak dibedakan berdasarkan fisik dan kelas kastanya, tetapi dari perbuatan masing-masing. Mendengar ajaran itu, para perempuan dari suku Satya yang semuanya bangsawan, mulai dari bibi Budha sendiri yang menjadi ibu tiri yang membesarkannya, yaitu Mahapati Gotami, dan istri Sang Budha sendiri, Tias Negara, menghadap kepada Budha dan mengungkapkan keinginan untuk mencapai kesucian. Memang, pada awalnya keinginan tersebut sempat ditolak oleh Buddha, sampai tiga kali. Tetapi pada akhirnya, keinginan tersebut dikabulkan.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Walau pun mungkin secara teori agama Budha terlihat selangkah lebih maju, tetapi kenyataannya beban kultur patrialistik masih tetap melekat. Misalnya, dengan adanya teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, serta yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminis agama Buddha, yang pada akhirnya menemukan bahwa ada ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, yang umumnya mengandung spirit ajaran Budha yang egaliter.

BAHAN BACAAN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.